Kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan bukan lagi wacana masa depan itu sudah terjadi. Buruh di pabrik-pabrik tekstil, manufaktur, dan bahkan jasa kini mulai tergeser oleh teknologi. Jika negara tidak cepat merespons, maka kita akan menghadapi gelombang pengangguran yang serius.

Solusinya bukan dengan menolak teknologi, melainkan dengan mempersiapkan buruh agar mampu beradaptasi. Pelatihan ulang, peningkatan keterampilan, dan pendidikan vokasi harus menjadi prioritas.

Transisi menuju ekonomi digital harus dilakukan secara adil (just transition) agar tidak meninggalkan siapa pun di belakang, terutama para buruh yang paling rentan.

Menghargai buruh bukan hanya tanggung jawab negara atau pengusaha, tetapi juga masyarakat luas. Konsumen memiliki peran penting dalam mendorong praktik ketenagakerjaan yang adil. Dengan memilih produk dan layanan dari perusahaan yang menghormati hak buruh, masyarakat bisa menjadi bagian dari perubahan.

Media juga memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan narasi yang lebih manusiawi tentang buruh. Bukan hanya memberitakan unjuk rasa tahunan, tetapi juga mengangkat kisah perjuangan mereka, kontribusi mereka, dan harapan-harapan mereka yang sering kali terabaikan.

Kita harus berhenti memandang buruh sebagai objek, dan mulai melihat mereka sebagai subjek yang layak mendapatkan penghormatan dan ruang partisipasi dalam pembangunan nasional.

Hari Buruh bukan hanya tentang peringatan sejarah perjuangan kelas pekerja, tetapi juga tentang bagaimana kita melihat masa depan bangsa ini.

Apakah kita ingin membangun ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang? Atau ekonomi yang benar-benar berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan bersama? Menghargai buruh berarti membangun sistem yang menjamin hak, kesejahteraan, dan martabat mereka.

Itu berarti memastikan bahwa setiap keringat yang mereka teteskan tidak hanya dihitung sebagai produksi, tetapi juga sebagai kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Buruh bukan sekadar tenaga. Mereka adalah manusia, warga negara, dan pahlawan pembangunan. Sudah saatnya kita menempatkan mereka di tempat yang seharusnya sebagai jantung dari perekonomian yang adil dan beradab. (***)

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.