Filantropi Politik: Antara Kepedulian dan Legitimasi
Dalam ilmu politik, filantropi kerap dipakai sebagai strategi membangun citra (Schuyt, 2010). Politisi tampil sebagai dermawan, tetapi bantuan itu sering kali bersifat karitatif, jangka pendek, dan sarat kepentingan elektoral.
Di Flores, masyarakat kerap dihadapkan pada dilema: bagaimana menolak proyek besar jika politisi sudah lebih dulu memberi perhatian? Bagaimana menentang kebijakan jika telah menerima “kebaikan hati” berupa bantuan sosial? Inilah dilema yang bisa membuat suara kritis rakyat melemah.
Namun, penting ditegaskan: filantropi bukanlah tiket untuk merusak alam. Bantuan sesaat tidak sebanding dengan risiko jangka panjang yang harus ditanggung masyarakat. Karena itu, membuang sikap dilematis berarti berani memisahkan kepedulian semu dari kepentingan hidup yang lebih besar.
Penolakan sebagai Adaptasi dan Mitigasi
Dalam perspektif ilmu kebencanaan, penolakan masyarakat Flores terhadap geothermal dapat dibaca sebagai strategi adaptasi dan mitigasi.
Pertama, adaptasi berarti menyesuaikan diri dengan kondisi geografis rawan bencana. Dengan menolak geothermal, masyarakat menjaga hutan dan sumber air sebagai benteng alami menghadapi kekeringan, banjir, atau longsor (Holling, 1973; IPCC, 2014).
Kedua, mitigasi berarti mencegah munculnya risiko baru. Eksplorasi geothermal berpotensi menambah bahaya ekologis. Menolak proyek ini berarti mengurangi ancaman tambahan yang
bisa muncul (Carter, 1991; UU No. 24/2007).
Dengan demikian, penolakan bukanlah sikap anti-kemajuan. Ia justru bentuk kesadaran kritis untuk melindungi ruang hidup.
Pembangunan Harus Berkelanjutan
Brundtland Report (1987) menegaskan bahwa pembangunan harus memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dalam bingkai ini, geothermal di Flores layak ditinjau ulang. Apakah benar proyek ini menguntungkan masyarakat lokal? Atau hanya menguntungkan segelintir pihak dengan mengorbankan ekologi dan budaya setempat?. Pembangunan berkelanjutan seharusnya mencari energi alternatif yang sesuai konteks lokal, seperti tenaga surya, mikrohidro, atau biomassa skala kecil yang lebih aman bagi ekosistem Flores.
Filantropi politik hanyalah Penghibur sesaat, tetapi tidak bisa membeli keberlanjutan hidup. Flores sudah memilih jalannya: menolak geothermal bukan demi menutup pintu kemajuan, tetapi demi menjaga alam, mengurangi risiko bencana, dan melindungi masa depan.
Membuang sikap dilematis terhadap filantropi adalah langkah berani. Karena pada akhirnya, lebih baik menjaga tanah dan air tetap lestari daripada menerima bantuan sesaat yang berujung pada kehilangan segalanya. (***)
Penulis: Yosef Mosa, S.Sos (Pemerhati Alam & Lingkungan)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
