Filantropi Politik di Tengah Penolakan Geothermal.

FAKTAHUKUMNTT.COM, OPINI – 14 September 2025.

“Menimbang janji kesejahteraan di balik risiko ekologis dan politik kepentingan”.

Wacana pembangunan energi panas bumi (geothermal) di Flores telah menimbulkan perdebatan panjang. Di satu sisi, pemerintah dan politisi menyuarakan kepentingan nasional untuk mengejar target bauran energi terbarukan. Di sisi lain, masyarakat lokal menaruh kekhawatiran mendalam atas risiko lingkungan, sosial, dan budaya yang dapat mengancam keberlangsungan hidup mereka.

Politisi kerap hadir dengan wajah penuh perhatian. Mereka menyalurkan bantuan sosial ketika masyarakat diterpa bencana, hingga program filantropi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Di Flores, praktik ini tidak asing: masyarakat menerima sumbangan, bahkan perhatian simbolis yang seolah-olah menunjukkan kepedulian tulus.

Namun, ketika proyek panas bumi (geothermal) digulirkan, wajah ganda politisi mulai terlihat. Bantuan sosial dan filantropi kerap dipakai untuk melembutkan hati masyarakat, seakan menukar kesetiaan rakyat dengan proyek besar yang berpotensi mengorbankan lingkungan dan masa depan generasi berikutnya.

Di titik inilah, masyarakat Flores perlu membuang sikap dilematis. Bantuan sesaat tidak boleh mengaburkan ancaman jangka panjang. Alam Flores bukanlah komoditas yang bisa dibeli dengan filantropi politik.

Skala Risiko Geothermal

Secara nasional, geothermal dipandang sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan. Namun, di Flores, kenyataannya lebih kompleks. Pulau ini berada di kawasan cincin api (ring of fire) dengan potensi gempa, letusan gunung, dan tanah longsor. Aktivitas pengeboran  panas bumi di wilayah rawan justru bisa memperbesar kerentanan bencana, bukan menguranginya.

Selain itu, geothermal membutuhkan lahan luas dan memengaruhi ekosistem hutan serta sumber mata air. Padahal, bagi masyarakat Flores, hutan bukan sekadar bentang alam, tetapi ruang hidup, sumber pangan, bahkan tempat berakar budaya dan spiritualitas. Jika rusak, bukan hanya lingkungan yang hilang, melainkan juga identitas kultural yang diwariskan lintas generasi.

Filantropi Politik: Antara Kepedulian dan Legitimasi

Dalam ilmu politik, filantropi kerap dipakai sebagai strategi membangun citra (Schuyt, 2010). Politisi tampil sebagai dermawan, tetapi bantuan itu sering kali bersifat karitatif, jangka pendek, dan sarat kepentingan elektoral.

Di Flores, masyarakat kerap dihadapkan pada dilema: bagaimana menolak proyek besar jika politisi sudah lebih dulu memberi perhatian? Bagaimana menentang kebijakan jika telah menerima “kebaikan hati” berupa bantuan sosial? Inilah dilema yang bisa membuat suara kritis rakyat melemah.

Namun, penting ditegaskan: filantropi bukanlah tiket untuk merusak alam. Bantuan sesaat tidak sebanding dengan risiko jangka panjang yang harus ditanggung masyarakat. Karena itu, membuang sikap dilematis berarti berani memisahkan kepedulian semu dari kepentingan hidup yang lebih besar.

Penolakan sebagai Adaptasi dan Mitigasi

Dalam perspektif ilmu kebencanaan, penolakan masyarakat Flores terhadap geothermal dapat dibaca sebagai strategi adaptasi dan mitigasi.

Pertama, adaptasi berarti menyesuaikan diri dengan kondisi geografis rawan bencana. Dengan menolak geothermal, masyarakat menjaga hutan dan sumber air sebagai benteng alami menghadapi kekeringan, banjir, atau longsor (Holling, 1973; IPCC, 2014).

Kedua, mitigasi berarti mencegah munculnya risiko baru. Eksplorasi geothermal berpotensi menambah bahaya ekologis. Menolak proyek ini berarti mengurangi ancaman tambahan yang

bisa muncul (Carter, 1991; UU No. 24/2007).
Dengan demikian, penolakan bukanlah sikap anti-kemajuan. Ia justru bentuk kesadaran kritis untuk melindungi ruang hidup.

Pembangunan Harus Berkelanjutan
Brundtland Report (1987) menegaskan bahwa pembangunan harus memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dalam bingkai ini, geothermal di Flores layak ditinjau ulang. Apakah benar proyek ini menguntungkan masyarakat lokal? Atau hanya menguntungkan segelintir pihak dengan mengorbankan ekologi dan budaya setempat?. Pembangunan berkelanjutan seharusnya mencari energi alternatif yang sesuai konteks lokal, seperti tenaga surya, mikrohidro, atau biomassa skala kecil yang lebih aman bagi ekosistem Flores.

Filantropi politik hanyalah Penghibur sesaat, tetapi tidak bisa membeli keberlanjutan hidup. Flores sudah memilih jalannya: menolak geothermal bukan demi menutup pintu kemajuan, tetapi demi menjaga alam, mengurangi risiko bencana, dan melindungi masa depan.

Membuang sikap dilematis terhadap filantropi adalah langkah berani. Karena pada akhirnya, lebih baik menjaga tanah dan air tetap lestari daripada menerima bantuan sesaat yang berujung pada kehilangan segalanya. (***)

Penulis: Yosef Mosa, S.Sos (Pemerhati Alam & Lingkungan)

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.