Demo Mahasiswa Serukan 11+9 Tuntutan, Termasuk Hentikan MBG dan Kopdes Merah Putih
FAKTAHUKUMNTT.COM, JAKARTA – 15 Juni 2026.
Gelombang protes mahasiswa kembali menggema di jantung ibu kota. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (PERISAI) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Senin 15 Juni 2026.
Mereka membawa 11+9 poin tuntutan yang disebut sebagai representasi keresahan rakyat terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Dilangsir dari Kompas.com, Aksi yang semula direncanakan berlangsung di Bundaran HI itu sempat mengalami hambatan setelah aparat kepolisian melakukan penyekatan akses menuju lokasi utama demonstrasi.
Massa akhirnya tertahan di depan Gedung Thamrin Nine dan memilih melakukan aksi duduk sambil menyampaikan orasi secara bergantian.
Negosiasi Buntu, Mahasiswa Dikepung Barikade Polisi
Massa mulai melakukan aksi duduk sekitar pukul 16.20 WIB setelah upaya negosiasi dengan aparat keamanan tidak menemukan titik temu.
Mahasiswa meminta akses menuju Bundaran HI dibuka agar mereka dapat menyampaikan aspirasi di lokasi yang telah direncanakan.
Namun pihak kepolisian mengarahkan massa untuk memindahkan titik aksi ke kawasan Monumen Nasional (Monas), tepatnya di Jalan Medan Merdeka Selatan.
Penolakan mahasiswa terhadap usulan tersebut membuat situasi sempat memanas. Massa kemudian berorasi di tengah kepungan barikade aparat yang mengelilingi mereka dari berbagai sisi.
“Kami cuma mau menyuarakan suara rakyat. Kami mau membela rakyat,” teriak salah seorang peserta aksi di tengah kerumunan massa.
Mahasiswa juga memprotes posisi aparat yang dinilai terlalu dekat dengan peserta aksi dan meminta ruang yang lebih luas untuk menyampaikan aspirasi secara damai.
Meski berada dalam penjagaan ketat, semangat demonstran tidak surut. Mereka tetap menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
“Tujuan kami bukan di sini. Kami hanya ingin menyampaikan pendapat. Semakin ditekan, semakin melawan,” seru massa aksi.
Kemacetan di Sudirman Tak Terhindarkan
Aksi demonstrasi tersebut turut berdampak pada arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman.
Kendaraan dari arah Semanggi menuju Bundaran HI hanya dapat melintas melalui satu lajur di sisi kanan jalan.
Dua lajur lainnya tertutup oleh barisan aparat keamanan dan massa demonstran, menyebabkan antrean kendaraan mengular dan kepadatan lalu lintas pada jam sibuk sore hari.
Aliansi PERISAI Satukan Berbagai Organisasi Mahasiswa
Ketua Umum Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN), Muhammad Rizaldy, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan gerakan bersama sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok pemuda yang tergabung dalam Aliansi PERISAI.
Aliansi tersebut terdiri dari berbagai elemen, antara lain FMN Pusat, GMNI Jakarta Selatan, KABMU Universitas Nasional, KBM Universitas Terbuka Jakarta, Sentral Perjuangan Pemuda, Aliansi Cipayung Plus Jakarta Barat, GMNI Jakarta Pusat, GMNI Depok, serta sejumlah organisasi mahasiswa lainnya.
Menurut Rizaldy, seluruh peserta aksi terlebih dahulu berkumpul di satu titik sebelum melakukan long march menuju Bundaran HI.
“Hari ini kawan-kawan dari berbagai organisasi dan aliansi berkumpul terlebih dahulu, kemudian melakukan long march menuju Bundaran HI untuk menyampaikan aspirasi rakyat,” ujarnya.
11+9 Tuntutan, Soroti Krisis Ekonomi hingga Transparansi Danantara
Dalam aksinya, Aliansi PERISAI mengusung tema besar perjuangan rakyat menghadapi tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan kebijakan negara yang dianggap tidak transparan.
Mereka membagi tuntutan menjadi dua kelompok besar, yakni 11 tuntutan mendesak dan 9 tuntutan umum.
Beberapa tuntutan yang paling menonjol antara lain penolakan terhadap kenaikan harga BBM dan bahan pokok, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang dinilai rentan terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), penghentian gelombang PHK massal, hingga pencabutan UU Polri.
Massa juga mendesak pemerintah untuk memperbaiki pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatkan kesejahteraan guru honorer, mengalokasikan anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi, serta membuka secara transparan mekanisme pengelolaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kepada publik.
Tak hanya itu, mereka turut menuntut evaluasi terhadap sejumlah pejabat negara yang dianggap gagal menjaga stabilitas sektor ekonomi dan energi nasional.
Dari Agraria hingga Hak Asasi Manusia
Selain isu ekonomi, Aliansi PERISAI juga menyoroti persoalan agraria, pendidikan, demokrasi, dan hak asasi manusia.
Dalam sembilan tuntutan umumnya, mahasiswa mendesak penghentian penggusuran dan perampasan tanah, evaluasi terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai merugikan masyarakat, penghentian militerisasi ruang sipil, serta perlindungan terhadap aktivis dan pejuang HAM dari berbagai bentuk intimidasi dan kriminalisasi.
Mereka juga menuntut pendidikan yang lebih terjangkau dan demokratis, perlindungan terhadap perempuan dari berbagai bentuk kekerasan, serta pembangunan industri nasional yang berpihak pada reforma agraria sejati.
Cerminan Kegelisahan Generasi Muda
Aksi di Bundaran HI menjadi salah satu bentuk artikulasi politik generasi muda terhadap berbagai persoalan nasional yang mereka nilai semakin membebani masyarakat.
Melalui 20 tuntutan yang disuarakan, mahasiswa berupaya menempatkan isu kesejahteraan rakyat, pendidikan, ketenagakerjaan, demokrasi, hingga hak asasi manusia sebagai agenda penting yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Sumber: Kompas.com
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
