Dari Pelukan Ibu, Hingga Payung Negara, Perlindungan untuk Setiap Anak.

FAKTAHUKUMNTT.COM, OPINI – 23 Juli 2025.

Oleh : ERMELINDA NOH WEA

Di awal kehidupan, pelukan ibu adalah tempat pertama seorang anak mengenal dunia. Dalam hangatnya pelukan itu, tersimpan rasa aman, cinta, dan harapan.

Sejak itulah, anak-anak tumbuh dengan naluri dasar untuk merasa dilindungi. Namun, seiring waktu, kehidupan tidak selalu sehangat pelukan pertama itu. Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dalam kasih sayang. Tidak semua anak mendapat hak yang semestinya. Di sinilah negara, masyarakat, dan kita semua diuji apakah kita benar-benar menjadi payung yang menaungi anak-anak kita, atau justru membiarkan mereka berjalan sendiri di tengah hujan kehidupan?

Hari Anak Nasional, yang diperingati setiap 23 Juli, seharusnya bukan hanya seremoni penuh hiasan dan kata-kata manis. Ini adalah cermin besar yang memperlihatkan sejujurnya bagaimana kondisi anak-anak di negeri ini. Apakah mereka benar-benar hidup dalam suasana yang ramah anak? Atau masih menjadi korban dari sistem yang abai terhadap suara-suara kecil mereka?

Di banyak sudut negeri ini, anak-anak tumbuh di lingkungan yang jauh dari ideal. Kekerasan dalam rumah tangga masih kerap terjadi dan mirisnya, sering kali anak menjadi korban langsung atau saksi bisu. Data menunjukkan bahwa banyak anak mengalami kekerasan fisik, verbal, dan emosional dari orang-orang terdekatnya. Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat perlindungan pertama.

Ketika pelukan ibu berganti menjadi bentakan, dan ayah yang seharusnya menjadi panutan justru menjadi sumber trauma, maka anak akan kehilangan pijakan awal dalam hidup. Mereka tidak hanya terluka secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Luka yang kadang tak terlihat ini bisa tumbuh bersama mereka, dan jika tidak diobati, akan diwariskan dalam bentuk perilaku dan rasa takut yang membekas sepanjang hayat.

Negara harus hadir bukan sekedar di atas kertas, Undang-Undang Perlindungan Anak, lembaga sosial, dan berbagai program pemerintah sudah ada. Namun pertanyaannya: seberapa efektif mereka bekerja? Seberapa serius negara menegakkan perlindungan terhadap anak, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan di pelosok desa, di jalanan kota, di panti sosial yang kekurangan tenaga, bahkan di ruang-ruang kelas tempat bullying menjadi rahasia umum?.

Perlindungan tidak boleh bersifat administratif semata. Ia harus terasa, hidup, dan menjangkau. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual, perdagangan manusia, pekerja anak, atau pernikahan dini, membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Mereka butuh kebijakan nyata, sistem yang cepat dan berpihak, serta pendampingan jangka panjang agar dapat memulihkan hidup mereka yang retak.

Negara harus menjadi payung, bukan hanya dalam keadaan darurat, tapi sepanjang waktu. Payung yang terbuka luas, melindungi semua anak tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, gender, maupun disabilitas mereka.

Kita sering menyebut anak sebagai generasi penerus atau “masa depan bangsa.” Kalimat itu terdengar indah, tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan anak-anak hidup di hari ini. Mereka bukan investasi semata. Mereka manusia yang sepenuhnya berhak hidup, didengar, dan dihormati saat ini juga. Bukan nanti.

Jika hari ini kita gagal memberikan perlindungan yang layak, maka masa depan yang kita bayangkan akan penuh lubang. Anak yang tumbuh dalam kekerasan dan ketidakadilan akan membawa luka itu saat mereka dewasa. Mereka bisa menjadi orang tua yang menyakiti, pemimpin yang tak peduli, atau warga yang kehilangan kepercayaan terhadap negaranya sendiri.

Negara dan keluarga memang pusat perlindungan anak, tetapi masyarakat memiliki peran yang tak kalah penting. Kita semua adalah mata dan telinga bagi anak-anak di sekitar kita. Jangan tutup mata ketika melihat kekerasan. Jangan bungkam ketika mendengar jeritan anak yang disakiti. Jangan anggap enteng perilaku yang merendahkan martabat anak-anak.

Sekolah, tempat ibadah, tempat bermain, bahkan media sosial, harus menjadi ruang yang ramah anak. Kita harus membangun budaya yang menghargai anak sebagai subjek, bukan objek. Mereka bukan milik orang dewasa, bukan alat pencapaian ambisi, apalagi korban dari sistem yang timpang.

Satu pelukan, satu perlindungan, dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, satu pelukan bisa menjadi sumber kekuatan bagi seorang anak. Tetapi jika pelukan itu tidak ada, maka negara dan masyarakat harus menggantikannya dengan perlindungan yang nyata. Pendidikan yang menyentuh hati, sistem hukum yang adil, ruang aman untuk berekspresi, dan dukungan kesehatan mental yang mudah diakses semuanya adalah bentuk pelukan yang lebih besar.

Hari Anak Nasional bukan hanya milik anak-anak. Ia adalah pengingat keras bagi orang dewasa. Bahwa kita memegang kendali atas masa depan mereka. Bahwa kita punya tanggung jawab moral dan sosial untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang tumbuh dalam ketakutan, kehilangan, atau kekurangan kasih.

Dari pelukan ibu yang pertama, hingga payung negara yang menyeluruh perlindungan anak adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh bersama. Dan kita tidak boleh berhenti, sebelum setiap anak merasa aman, dicintai, dan dihargai sebagaimana mestinya. (***)

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.