Karya pertama mengangkat tema praktik baik alumni SDGs, sedangkan karya kedua membahas tema bebas yang relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Sejumlah media nasional yang masuk nominasi 10 besar antara lain Kompas, Viva, Tribun, Media Indonesia, CNBC, Jawa Pos, IDN Times, hingga Bloomberg Technoz.

“Dari 10 besar itu kembali diseleksi menjadi tiga terbaik, lalu dipilih satu terbaik untuk memaparkan karya tulisnya di acara puncak SDGs Academy,” kata Sevrin.

Sebelumnya, karya Sevrin yang mengantarkannya masuk 10 besar mengangkat percepatan SDGs melalui isu kesetaraan gender, dengan menyoroti praktik baik ibu-ibu rumah tangga di Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di tingkat desa.

Dalam karya keduanya, mantan aktivis GMNI itu mengulas secara komprehensif persoalan pekerja migran asal NTT, termasuk risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dampak sosial bagi keluarga di kampung halaman, serta beban ekonomi yang tidak selalu sebanding dengan harapan, meski pekerja migran merupakan penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia.

Laporan bergaya feature tersebut juga menghadirkan praktik baik dan testimoni pekerja migran yang berhasil karena berangkat melalui jalur legal dan prosedural.

“Melalui karya tulis ini, saya ingin mengedukasi masyarakat agar jika ingin bekerja ke luar negeri, harus melalui prosedur yang sesuai aturan, mulai dari perekrutan, pelatihan, hingga keberangkatan melalui jalur resmi yang diawasi pemerintah,” ujarnya.

“Sudah cukup NTT dikenal sebagai ladang korban human trafficking. Padahal, kualitas SDM kita tidak kalah dengan daerah lain,” tambahnya.

Tulisan tersebut juga mendorong penguatan peran pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dalam mencegah perdagangan orang melalui edukasi, transparansi informasi, dan pengawasan proses perekrutan tenaga kerja.

Berpartisipasi Membangun Daerah Melalui Tulisan

Capaian ini bukan yang pertama bagi Sevrin. Sebelumnya, ia juga pernah meraih 8 besar Lomba Karya Jurnalistik tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan tentang ruang aman bagi korban kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Meski demikian, Sevrin menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama.

“Juara atau masuk nominasi bukan hal utama. Yang paling penting adalah karya jurnalistik yang mampu mengedukasi masyarakat agar lebih sadar, kritis, dan paham prosedur,” katanya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.