Mama Elis, salah satu penjual periuk tanah di Pasar Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, mengungkapkan realitas pahit tersebut. Ia mengaku minat masyarakat untuk membeli periuk tanah sangat rendah.
“Dalam satu bulan, paling hanya satu atau dua orang yang datang beli,” ujar Mama Elis saat ditemui di lapaknya, Sabtu Siang, 24 Januari 2026.
Menurutnya, mayoritas pembeli bukan lagi untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, melainkan untuk keperluan tertentu yang berkaitan dengan tradisi.
“Orang datang beli palingan hanya untuk acara adat dan untuk rebus obat saja. Sekarang sudah setengah mati. Saya sediakan periuk tanah hanya untuk melengkapi jualan saja karena ada yang titip untuk dijual,” jelasnya.
Dari Alat Masak ke Simbol Budaya
Periuk tanah kini mengalami pergeseran fungsi, dari kebutuhan utama menjadi simbol budaya. Keberadaannya lebih sering dijumpai dalam ritual adat, upacara tradisional, atau praktik pengobatan lokal yang masih mempertahankan cara-cara leluhur.
Kondisi ini menunjukkan bahwa periuk tanah tak lagi hidup dalam praktik keseharian, melainkan bertahan dalam ruang simbolik dan seremonial. Tanpa upaya pelestarian yang berkelanjutan, kearifan lokal ini berpotensi benar-benar hilang dari ingatan generasi mendatang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
