Berangkat dari kondisi tersebut, YMTM bersama warga melakukan serangkaian langkah konservasi berbasis ekologi.
Kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman anakan bambu dan pohon gayam, dua jenis vegetasi yang dikenal mampu menjaga daya serap tanah, pembuatan lubang jebakan air (rorak) untuk meningkatkan infiltrasi air hujan, serta pemasangan pagar kawat guna melindungi kawasan mata air dari gangguan ternak.
Koordinator YMTM Flores, Marsel Mau, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari Program Kampung Iklim yang telah dirancang secara berkelanjutan dan berlandaskan Peraturan Desa tentang Sumber Daya Air.
“Konservasi mata air ini bertujuan memulihkan dan meningkatkan debit air yang terus menurun. Upaya ini tidak bisa instan, tetapi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat,” jelas Marsel.
Ia menegaskan, pelestarian alam bukan pekerjaan satu pihak. Aksi di Ae Nio merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga, di mana YMTM bekerja sama dengan World Neighbors (WN), Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dalam penyediaan anakan bambu, serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagekeo yang mendukung penyediaan anakan pohon gayam.
Koordinator Kabupaten Yayasan Bambu Lingkungan Lestari wilayah Nagekeo, Juruslan Ndima, menekankan bahwa krisis lingkungan hanya dapat dihadapi melalui semangat gotong royong.
“Merawat alam tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kita harus berjalan bersama, karena bumi ini rumah kita bersama,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
