Namun dalam beberapa tahun terakhir, warga mulai merasakan perubahan yang mengkhawatirkan, debit air kian menurun, terutama saat musim kemarau.
Penurunan debit air tersebut menjadi sinyal rapuhnya keseimbangan ekosistem. Bagi warga, kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan peringatan bahwa alam membutuhkan perhatian dan perlindungan serius.
“Kami merasakan betul perubahannya. Dulu airnya besar, sekarang jauh berkurang,” ujar Frans Hesi Wea, warga Dusun B Malabo.
Ia menuturkan, penurunan debit mata air sudah terasa sejak lama, bahkan sejak pascagempa Flores tahun 1992.
“Mungkin juga karena cuaca sekarang sudah berubah,” tambahnya, menyiratkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Meski mata air masih mengalir sepanjang tahun, saat musim kemarau panjang warga kerap mengalami kesulitan air bersih.
Sebagian bahkan terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan harian, sebuah ironi di tengah alam yang sejatinya kaya sumber daya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
