Nagekeo Mencetak Sejarah: Satu-satunya Kabupaten di NTT yang Akan Miliki Holding Ground
FAKTAHUKUMNTT.COM, NAGEKEO – 15 Oktober 2025.
Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, menandai sebuah babak baru dalam sejarah peternakan Kabupaten Nagekeo. Bersama tim terpadu lintas instansi, ia meninjau lahan yang kelak akan menjadi Holding Ground atau tempat penampungan hewan ternak sebelum dikirim ke luar pulau, Rabu 15 Oktober 2025.
Jika terealisasi, fasilitas ini akan menjadikan Nagekeo sebagai satu-satunya kabupaten di Provinsi NTT yang memiliki Holding Ground.
“Kalau sudah dibangun, Nagekeo akan menjadi yang pertama dan satu-satunya di NTT yang punya Holding Ground,” ujar Wabup Gonzalo penuh keyakinan.
Langkah Serius, Bukan Sekadar Wacana
Kunjungan lapangan ini merupakan tindak lanjut nyata dari rapat lintas sektor yang digelar di ruang kerja Wakil Bupati sehari sebelumnya, Selasa 14 Oktober 2025.
Hadir mendampingi Gonzalo, Danyonif TP 834 Wakanga Mere Letkol Inf. Justik Handinata, Kadis Peternakan Klementina Dawo, serta perwakilan dari Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, dan Dinas Penanaman Modal dan PTSP.
Setiap instansi membawa perannya masing-masing. PUPR menilai aspek tata ruang dan aksesibilitas. Dinas Lingkungan Hidup meneliti potensi pencemaran limbah. Bappeda memetakan kebutuhan anggaran.Sementara Dinas Peternakan menilai kesiapan teknis dan pengelolaan.
Lego, Lokasi yang Menjanjikan
Hasil survei di lokasi Lego, Desa Persiapan Aeramo Timur, menunjukkan area tersebut dinilai layak untuk dijadikan Holding Ground. Selain memiliki luas dan kontur tanah yang mendukung, kawasan itu juga strategis secara pendidikan dan lingkungan.
Di sebelah timur berbatasan langsung dengan SMKN 1 Aesesa, yang ke depan diharapkan bisa menjadi mitra dalam pengelolaan limbah dan praktik lapangan bagi para siswa.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian utama.
Holding Ground ini akan dirancang dengan konsep ramah lingkungan. Limbah ternak tidak akan dibuang sembarangan, tetapi diolah menjadi pupuk organik atau energi biogas.
Pembangunan Holding Ground bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga tentang visi besar pengelolaan peternakan berkelanjutan di NTT.
Selama ini, NTT dikenal sebagai daerah penghasil ternak terbesar di Indonesia Timur, namun sebagian besar kabupaten belum memiliki fasilitas karantina dan penampungan hewan yang memenuhi standar ekspor.
Ketiadaan Holding Ground membuat rantai pasok peternakan sering tersendat, bahkan menghambat potensi ekonomi masyarakat.Kini, dengan adanya inisiatif dari Nagekeo, harapan baru itu muncul. Holding Ground akan menjadi simpul logistik ternak antar-pulau, memperpendek rantai distribusi, menekan biaya transportasi, dan tentu saja membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Bagi para peternak di wilayah Aesesa dan sekitarnya, kehadiran Holding Ground ibarat pintu menuju masa depan yang lebih pasti. Mereka tak lagi harus bergantung pada tengkulak atau agen luar daerah untuk mengirim ternak. Pemerintah daerah akan menyiapkan sistem terintegrasi dari penampungan, pemeriksaan kesehatan, hingga pengiriman hewan.
Selain mendongkrak ekonomi lokal, fasilitas ini juga berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui jasa karantina dan pengelolaan ternak. Bahkan, efek domino ekonominya akan terasa di sektor transportasi, perdagangan, hingga pendidikan. (Rilis/Tenda)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
