20 Fasilitator Desa dan Sekolah Ikuti Mini Lokakarya Pendampingan Remaja di Nagekeo

FAKTAHUKUMNTT.COM, NAGEKEO – 24 Januari 2025.

Sebanyak 20 fasilitator desa dan sekolah mengikuti Mini Lokakarya Pendampingan Remaja yang berlangsung selama dua hari, 23–24 Januari 2026.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Plan International Indonesia PIA Nagekeo sebagai bagian dari penguatan pendampingan remaja di desa dan satuan pendidikan.

Pada hari pertama, 23 Januari 2026, kegiatan difokuskan pada evaluasi pendampingan remaja yang sedang berjalan. Para fasilitator membahas berbagai tantangan di lapangan, pembelajaran baik, serta rekomendasi lanjutan agar pendampingan remaja dapat berjalan lebih efektif. Evaluasi ini turut dihadiri oleh kepala desa dan kepala sekolah dari wilayah dampingan.

“Mini lokakarya ini penting sebagai ruang refleksi bersama. Dari sini kita bisa melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperkuat ke depan dalam pendampingan remaja,” ujar Rico Ariesti Jeffry, Coordinator Program Yayasan Plan International Indonesia PIA Nagekeo.

Desa yang terlibat dalam kegiatan ini yakni Udiworowatu, Kotodirumali, Wolowea, Tengatiba, Wajomara, Marapokot, Rega, Dhawe, dan Lape. Sementara sekolah sasaran meliputi SMPN 2 Satap Aesesa – Nebe, SMPS Woltermonginsidi, dan SMA Baleriwu – Danga.

Program pendampingan remaja menggunakan Modul MAPAN ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan dengan dukungan Yayasan Plan International Indonesia PIA Nagekeo, pemerintah desa, serta sekolah-sekolah sasaran.

Pada hari kedua, 24 Januari 2026, para fasilitator mendapatkan penguatan kapasitas melalui sejumlah materi strategis. Materi pendampingan psikososial dasar dan kesehatan mental disampaikan oleh Ibu Reit Eka Putri Lamuri dari Dinas Sosial Kabupaten Nagekeo.

“Kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian serius. Fasilitator memiliki peran penting sebagai pendamping awal agar remaja merasa aman dan didengar,” kata Reit Eka Putri Lamuri dalam sesi pemaparan.

Selain itu, materi keamanan bermedia sosial dan digitalisasi dibawakan oleh Anto Manatapi, pegiat media. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi remaja.

“Remaja harus dibekali pemahaman agar cerdas dan aman dalam menggunakan media sosial, karena ruang digital juga memiliki risiko,” ujarnya.

Materi manajemen konflik disampaikan oleh John Orlando, yang menekankan pentingnya pendekatan dialogis dalam mendampingi remaja.

“Konflik tidak selalu harus dihindari, tetapi perlu dikelola dengan cara yang sehat agar menjadi proses belajar bagi remaja,” jelasnya.

Melalui mini lokakarya ini, diharapkan para fasilitator semakin siap mendampingi remaja di desa dan sekolah, serta mampu merespons berbagai persoalan remaja secara lebih tepat dan berkelanjutan. (***)

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.