Menyalakan Harapan di Tengah Keterbatasan: Kisah Oskarianus Meta, Penjaga Asa Anak-anak Putus Sekolah di Nagekeo.

FAKTAHUKUMNTT.COM, NAGEKEO – 20 Oktober 2025.

Secercah cahaya harapan tumbuh dari Desa Aeramo, Kabupaten Nagekeo di tengah gelapnya realitas anak-anak yang kehilangan kesempatan bersekolah. Cahaya itu datang dari sosok sederhana bernama Oskarianus Meta, pria kelahiran Aeramo, 10 Februari 1985, yang menyalakan api perubahan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pelihara.

Perjalanan hidup Oskarianus sendiri bukan tanpa luka. Ia pernah merasakan getirnya putus sekolah usai menamatkan SMP. Demi bertahan hidup, ia menjadi penjual ikan di kampungnya.

Namun, di balik kerasnya hidup, ada kegelisahan yang terus menyala, pengalaman yang menuntunnya rindu untuk belajar dan rindu untuk tumbuh. Rasa itu akhirnya membawanya kembali ke bangku pendidikan, melanjutkan ke SMA Frateran Ndao Ende, sebuah keputusan bijak yang akhirnya mengubah arah hidupnya.

Setelah menamatkan SMA, Oskarianus melangkah lebih jauh. Ia menempuh pendidikan tinggi di STIBA Cakrawala Nusantara Kupang, mengambil jurusan Sastra Inggris. Sejak semester dua, ia sudah bekerja di Yayasan Purnama Kasih Kupang, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan layanan khusus, terutama bagi anak-anak yang putus sekolah.

Pengalaman itulah yang perlahan menanamkan panggilan dalam dirinya bahwa pendidikan bukan sekadar urusan ijazah, tetapi tentang memulihkan martabat manusia.

Usai diwisuda tahun 2010, Oskarianus pulang kampung dan menjadi guru di SMKN 1 Aesesa. Tak berhenti di situ, ia juga menjadi dosen bahasa Inggris di STKIP Nusa Bunga Floresta (NBF). Namun, di sela-sela rutinitasnya, Oskarianus justru menemukan kenyataan yang menyesakkan, begitu banyak anak di Nagekeo yang tidak melanjutkan sekolah karena kemiskinan, keterbatasan akses, dan putus asa terhadap sistem pendidikan formal.

Dari kegelisahan itulah, pada tahun 2011, ia memutuskan langkah besar, mengundurkan diri dari profesi guru dan dosen, lalu mendirikan lembaga pendidikan non-formal di bawah naungan Yayasan Pelita Harapan Rakyat (Pelihara).

Program pendataan dan layanan pendidikan pun dimulai tahun 2012, dengan semangat sederhana, membuka kembali jalan bagi mereka yang telah tertutup dari dunia pendidikan.

Awalnya, kantor administrasi PKBM Pelihara hanya menumpang di rumahnya. Untuk kegiatan belajar, mereka menggunakan ruang kelas SDK Aeramo dan SDI Ratedosa. Namun berkat kerja keras dan dukungan masyarakat, pada tahun 2020 lembaga ini akhirnya memiliki gedung sendiri, menjadi pusat pendidikan dan pelatihan yang kini menaungi ribuan anak muda yang dulu nyaris kehilangan masa depan.

“Demi sekolah, saya pernah menjual kerbau, babi, bahkan jagung hasil panen,” kenang Oskarianus dengan nada lirih namun tegas.

Semua dilakukan demi menutup biaya operasional dan memberi kesempatan belajar bagi anak-anak yang tak mampu. Keterpanggilan hatinya bukan tentang keuntungan, melainkan panggilan nurani karena setiap anak, katanya, berhak untuk bermimpi.

Setelah lebih dari satu dekade, PKBM Pelihara telah melayani lebih dari 4.000 peserta, dengan 472 siswa aktif yang terus bertambah setiap tahun. Para lulusan tersebar di berbagai bidang,ada yang menjadi ASN, P3K, kepala desa, perangkat dusun, anggota BPD, hingga wirausaha muda.

Kini dibawah tangan dingin Oskar, PKBM Pelihara masih tetap eksis menjaga harapan anak putus sekolah di Kabupaten Nagekeo,  memiliki 28 orang tenaga pendidik dengan semangat yang sama, melayani dari hati dan memastikan setiap generasi memiliki mimpi yang nyata.

Berkecimpung di Dunia Politik

Tak hanya di dunia pendidikan, Oskarianus juga pernah menapaki jalur politik. Pada 2017, ia maju sebagai calon wakil bupati Nagekeo, dan pada 2024, namanya kembali masuk dalam bursa bakal calon wakil bupati melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun, bagi dirinya, politik hanyalah jalan tambahan untuk memperluas dampak perjuangan, bukan tujuan akhir.

“Kalau lewat jalur itu (politik, red), saya bisa bantu lebih banyak anak, kenapa tidak?” katanya ringan.

Perjalanan Oskarianus Meta adalah kisah tentang keyakinan bahwa setiap anak berhak atas harapan, dan bahwa satu orang dengan tekad tulus bisa mengubah arah hidup ribuan manusia. Di tengah keterbatasan, ia membuktikan bahwa cinta dan pendidikan bisa menumbuhkan kembali semangat yang hampir padam.

Di Nagekeo, nama Oskarianus Meta kini bukan sekadar dikenal sebagai pendidik. Ia adalah simbol keteguhan hati, pelita kecil yang menerangi jalan anak-anak agar tak lagi tersesat dalam gelapnya putus sekolah dan agar mereka, seperti dirinya dulu, bisa menemukan kembali arti sebuah masa depan. (Tenda)

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.