Dari kegelisahan itulah, pada tahun 2011, ia memutuskan langkah besar, mengundurkan diri dari profesi guru dan dosen, lalu mendirikan lembaga pendidikan non-formal di bawah naungan Yayasan Pelita Harapan Rakyat (Pelihara).
Program pendataan dan layanan pendidikan pun dimulai tahun 2012, dengan semangat sederhana, membuka kembali jalan bagi mereka yang telah tertutup dari dunia pendidikan.
Awalnya, kantor administrasi PKBM Pelihara hanya menumpang di rumahnya. Untuk kegiatan belajar, mereka menggunakan ruang kelas SDK Aeramo dan SDI Ratedosa. Namun berkat kerja keras dan dukungan masyarakat, pada tahun 2020 lembaga ini akhirnya memiliki gedung sendiri, menjadi pusat pendidikan dan pelatihan yang kini menaungi ribuan anak muda yang dulu nyaris kehilangan masa depan.
“Demi sekolah, saya pernah menjual kerbau, babi, bahkan jagung hasil panen,” kenang Oskarianus dengan nada lirih namun tegas.
Semua dilakukan demi menutup biaya operasional dan memberi kesempatan belajar bagi anak-anak yang tak mampu. Keterpanggilan hatinya bukan tentang keuntungan, melainkan panggilan nurani karena setiap anak, katanya, berhak untuk bermimpi.
Setelah lebih dari satu dekade, PKBM Pelihara telah melayani lebih dari 4.000 peserta, dengan 472 siswa aktif yang terus bertambah setiap tahun. Para lulusan tersebar di berbagai bidang,ada yang menjadi ASN, P3K, kepala desa, perangkat dusun, anggota BPD, hingga wirausaha muda.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
