Mengapa IPHA Dianggap Revolusioner?
IPHA mengandalkan metode pengairan berselang (intermittent irrigation), yang memungkinkan sawah mengalami siklus basah-kering secara teratur.
Pendekatan ini terbukti mampu menghemat air hingga 30 persen dan meningkatkan produktivitas padi hingga 169 persen dibandingkan metode pengairan konvensional.
Lebih dari sekadar metode teknis, IPHA hadir sebagai ekosistem pengelolaan air berbasis digital.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan sistem informasi pengelolaan air digital untuk memudahkan petani dan petugas lapangan dalam menjadwalkan irigasi, memantau debit air, hingga memberikan peringatan dini jika terjadi potensi kekeringan.
“Teknologi ini memastikan pengelolaan air menjadi lebih akurat dan efisien, sehingga hasil yang dicapai melalui IPHA dapat dioptimalkan,” lanjut Dody.
Sebagai bagian dari sosialisasi nasional, Kementerian PUPR akan menggelar panen demplot dan pameran hasil IPHA di Daerah Irigasi Rentang pada Selasa (22/04/2025).
Acara ini akan menampilkan hasil panen dari 3 dari 208 demplot IPHA yang telah dikembangkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
